Lukamu Masih Tertinggal
Sudah lama rasanya tidak mengisi lembar kosong yang ada di sini. Iya, aku kembali dengan sebagian rasa yang entah apa namanya. Sakit itu, kecewa itu, luka itu, semua masih bersemayam di dasar hati yang paling dalam. Rapuh itu seaakan mematahkan segala langkah yang sudah aku buat. Kamu pikir aku kuat, nyatanya aku hampir kehilangan tulang-tulang kepercayaan.
Hebatnya kamu, setelah luka yang serius itu tertancap di seluruh pikiranku kamu datang kembali tanpa merasa itu luka. Mungkin aku merasa lega karena menganggapmu akan memperbaiki semuanya. Tapi aku salah, babak kedua yang kamu buat terasa semakin menyiksa. Kamu meninggalkanku tanpa kata. Aku berusaha menyapa tapi kamu seakaan mengabaikanya.
Seakan hari itu hari yang benar-benar menyiksa, aku mengucap janji pada sang-Pencipta untuk tidak lagi menaruh segala rasa pada apa-apa di masa depan. Aku akan menjadi seseorang yang tidak lagi peduli dengan segala perasaan yang hanya manis di bab pertama. Aku lelah, batinku tercekat, perasaanku seakan menolak akan hadirnya janji baru yang pasti sama saja. Aku ingin menjadi egois sepertimu, menaruh luka dimana saja. Apa kamu pernah mengingat segala yang aku lukis untuk novel kita? Aku mencoba menaruh segala warna untuk menemanimu disetiap tawa namun akhirnya kamu hina dengan duka.
Aku merasa aku kurang untuk dikata sempurna, aku menganggap semua yang ada di dunia hanyalah fana. Kamu tertawa bahagia sedang aku di sini (masih) berusaha menghapus semua bab yang sudah terbit sejak pertama. Sajak-sajak indah itu sirna, mungkin jika nanti aku melangkah dengan orang yang mencintaiku rasa ini tak lagi sama. Rasa yang awalnya penuh warna itu seakan sirna.
“mungkin kamu tau wajahku tak pernah sendu, tapi apa kamu tau hatiku tak berhenti merasakan pilu atas segala lukamu? terimakasih sudah tidak menghargaiku” -sewindu
Komentar
Posting Komentar